
Review: Menginap di Riad Moroko vs Ryokan Jepang
Melihat lebih dekat dua konsep penginapan tradisional paling estetik di dunia yang penuh nilai filosofis.
Dewi Kusuma
Waktu baca: 9 menit
Menginap di hotel bintang lima bisa jadi monoton jika layout kamarnya selalu serupa. Bagi traveler yang mencari keintiman dengan budaya asli negara tujuan, Riad di Maroko dan Ryokan di Jepang berdiri di puncak hierarki industri perhotelan tradisional.
Riad (Maroko) pada dasarnya adalah mension atau rumah bangsawan kuno dengan arsitektur memukau. Ciri khas utamanya adalah desain yang tertutup dari luar (tanpa jendela besar ke jalan), namun menyimpan halaman tengah terbuka (courtyard) beralaskan mozaik zellige yang mewah, dilengkapi air mancur kecil, dan dipayungi kanopi langit. Menginap kembali ke Riad serasa berada di oasis super sejuk pasca terpanggang terik panas medina Marrakech. Tamu juga biasanya disambut dengan teh mint hangat dan kudapan manis.
Di sisi lain, Ryokan (Jepang) membedah akar tradisi harmonisasi Zen. Lantai kamarnya dilapisi tikar Tatami yang harum, dan para tamu wajib memakai Yukata (kimono santai) seberes mandi. Ryokan bukan sekadar tentang kamar, tapi sebuah set pelayanan (Omotenashi). Ini mencakup makan malam spektakuler 10 hidangan 'Kaiseki' yang diantar langsung ke kamar Anda dengan penyajian kelas atas. Selanjutnya, keutamaan fasilitas ini tentu adalah Onsen atau pemandian air panas geotermal yang menenangkan saraf-saraf lelah.
Pilih yang mana? Keduanya memberikan pelarian epik. Riad menonjolkan romantisme eksotik dan arsitektur warna-warni yang instagenic, sementara Ryokan menawarkan refleksi diri, keheningan mutlak, dan kuliner terstruktur.
Suka artikel ini? Bagikan ke teman-temanmu!


